Selasa , Mei 21 2019
Home / Artikel / Islam dan Laku Normatif

Islam dan Laku Normatif

Zaman berganti zaman, ideologi berganti mantra, makna terseret rupa. Tidaklah kamu mengetahui nurani adalah penentram suci. Wajah suci berlumur lumpur, terhapus oleh udara miring nasionalisme. Atas nama kebangsaan mereka berdiri di tengah panji asmara Ilahi. Entah dari mana datangnya wangsit itu. Ritual/spiritual/moral/sosial sederet nama perilaku baik menjadi bancakan kelompok “terhormat”.

Penerjemahan ajaran langit pada realitas bumi dimanipulasi, Baginda Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan tapi diacuhkan. Kenapa manusia berebut kebaikan, sedangkan kejahatan sendiri adalah nilai realitas yang tidak bisa dieelakan.

Pertemuan belum bisa dimaknai sebagai perjumpaan. Sedangkan perjumpaan adalah pemahaman fungsional—kebijaksanaan. Anda ingat, kebijaksanaan dalam literatur jawa selalu diartikan pada dua fungsi, fungsi pertama kebijkasanaan sebagai kebenaran, dan kedua kebijaksanaan sebagai kepeneran (sesuai). Islam dan Laku Normatif, dalam pandangan kebudayaan adalah dua entitas yang dirancang terpisah, berbeda, berlawanan, dan tak mungkin bersenggama.

Islam disuarakan dengan Al-Hikmah (kebijaksnaan) dan kebaikan, sedangkan “laku normatif” dikonotasikan “kaku, keras, dan ideologis”. Islam yang secara definisi praksis adalah “agama”, apakah memiliki persandingan yang sesuai jika “tutur perilakunya” diseret pada kepentingan normatif (ideologi politik). Kajian kebudayaan mengatakan, agama bukanlah alat kepentingan kelompok atau personal apalagi dijadikan will to power (kehendak berkuasa), tidak.

Hukum ilmiahnya, pemahaman normatif tentu menyudutkan pemahaman kesempitan berpikir. Ada seruan Al-Qur’an menegaskan, La ikhraha Fiddin . Tidak ada paksaan dalam memeluk agama, selanjutnya karena Allah tahu mana yang benar dan salah. Kalau ayat ini ditafsirkan pada penafsiran normatif akan memunculkan “walaupun tidak ada paksaan namun Islamlah sebenar-benarnya agama, oleh karena itu akidah harus dimurnikan”.

Padahal, jika ayat ini kita tafsirkan dalam pengertian yang oprasional maka ayat ini akan menjadi sihir perdamaian kebangsaan, kebudayaan, dan keanekaragaman. Dan tentu Islam akan menjadi potret positif dalam sistem sosial yang tentram.

Tafsir oprasionalnya adalah tak ada paksaan bagi siapa saja untuk memeluk agama, bergaul, bersosialisai, berpolitik, berbudaya, dan bersuku. Karena sesungguhnya kebenaran dan kesesatan akan nampak terlihat jelas pada sisi-sisi ketidaksesuaian.

Di sinilah pentingnya kita mendewasakan interpretasi, bukan mengkerdilkan analisis. Paradigma kebangsaan, paradigma keagamaan, dan paradigma kebudayaan bukan “pengecualian”. Melainkan norma sosial dalam keselarasan alam. Menerima bukan berarti mengikuti, menyalahkan bukan berarti memenjarakan, dan menyesatkan bukan berarti menenggelamkan.

Semua ini adalah proses menuju pada keabadian sejati. Janganlah, kelas sosial yang awalnya hanya kelas borjuis dan ploretar, kelas penindas dan tertindas, lantas digantikan menjadi kelas surga dan neraka. Sungguh surga adalah milik kita semua, begitu pun dengan neraka.

About Admin

Check Also

IPPNU Ajak Masyarakat Stop Pernikahan Anak

Pelajar NU – Lembaga Kesejahteraan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) bersama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama …

Munas-Konbes NU Setuju RUU PKS dengan Catatan

Pelajar NU – Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) …

Open Recruitmen Masa Kesetiaan Anggota PAC. IPNU-IPPNU Gondanglegi

Pelajar NU – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri …

Begini Cara Mencari Hukum Islam yang Tepat di Internet

Pelajar NU – Saat ini internet telah menjadi salah satu media yang paling efektif dalam …

Jejak-jejak Perjuangan Kemanusiaan Gus Dur

Pelajar NU – Oleh Zastrouw Al-Ngatawi Siang itu suasana pendopo pesanntren al Muayyad Solo dipadati …

Presiden Jokowidodo Buka Kongres IPPNU

Pelajar NU – Jakarta, Presiden H Joko Widodo direncanakan memberikan pengarahan sekaligus membuka Kongres Ikatan Pelajar …

20 Waktu yang Disunahkan Membaca Shalawat (Bagian II)

Pelajar NU – Berikut adalah kelanjutan dari artikel bagian sebelumnya tentang 20 (dua puluh) waktu yang …

20 Waktu yang Disunahkan Membaca Shalawat (Bagian I)

Pelajar NU – Sebagaimana diketahui bahwa membaca shalawat kepada Nabi merupakan kewajiban bagi orang mukmin. Hanya …

Monumen Tumpukan Enam Piring, Simbol Toleransi di Raja Ampat

Pelajar NU – Bila Anda berkunjung ke Kabupaten Raja Ampat di Provinsi Papua Barat dan ingin …

KH As’ad Syamsul Arifin, Mengomando Santri hingga Preman

Pelajar NU – “Perang itu harus niat menegakkan agama dan ‘arebbuk negere’ (merebut negara), jangan hanya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas